[PSYCHOFACT #6] DUCK SYNDROME

Hai sobat psikologi, gimana nih kabarnya? semoga tetap dalam keadaan baik dan bisa menjalankan aktifitas harian dengan semangat ya. Tentunya hari ini lagi-lagi kami akan berbagi pengetahuan seputar kesehatan mental yang penting untuk kita ketahui. Sebelumnya mimin mau tanya nih, sudah pernahkah kalian mendengar tentang duck syndrome? Atau baru kali ini mendengar istilah ini? Oke, di kesempatan kali ini, kita akan membedah secara tuntas apa sih yang dimaksud dengan duck syndrome. Biar ga penasaran, yuk langsung kita masuk ke penjelasannya.

Sejarah dan Pengertian duck syndrome
duck syndrome istilah yang dipopulerkan oleh Universitas Stanford, menggambarkan siswa yang berjuang untuk bertahan dari tekanan lingkungan yang kompetitif sambil menampilkan citra California yang santai. Dianalogikan menjadi seekor bebek yang berenang tenang di permukaan air, namun di bawah kaki bebek mengayuh dengan susah payah agar tidak tenggelam atau terbawa arus.
Meski bukan diagnosis kesehatan mental secara formal, sindrom ini mengacu pada situasi di mana penderita terlihat sangat tenang sementara dalam kenyataannya, mereka dengan panik berusaha untuk memenuhi tuntutan dalam hidup mereka. Menurut Roxanne Dryden-Edwards, MD dalam artikel berjudul duck syndrome Fact, orang yang mengalami duck syndrome seringkali menunjukkan menderita depresi klinis, kecemasan, atau gangguan mental lainnya. Sesuai dengan asal sindrom ini dipopulerkan yakni di sebuah universitas, sindrom ini banyak dialami oleh Generasi Z

Diagnosis dan Dampak duck syndrome
Menurut Stephanie Kirby pada artikel What Is duck syndrome & Are You Suffering From It? dijelaskan Reaksi setiap orang terhadap stres berbeda. Beberapa orang mengatasinya dengan baik, dan beberapa orang tidak mampu melakukan manajemen stres dengan baik. Stres tidak hanya memberikan dampak pada kesehatan mental namun juga pada kondisi fisik orang yang mengalaminya. Beberapa melaporkan bahwa stres menyebabkan sakit kepala, mengganggu tidur, mengganggu konsentrasi, merasa tegang atau bahkan memicu kemarahan.
● Karena sindrom bebek bukanlah diagnosis formal, depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya yang mendasarinyalah yang akan dinilai.
● Depresi atau kecemasan dikaitkan dengan sejumlah kondisi kesehatan mental lainnya, seperti attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan bipolar, gangguan stres pasca trauma (PTSD), dan gangguan pikiran seperti skizofrenia, sehingga evaluator kemungkinan akan menyaring tanda dan gejala. manik depresi (gangguan bipolar), riwayat trauma, dan gejala kesehatan mental lainnya.
● Depresi atau kecemasan yang biasanya dikaitkan dengan sindrom bebek juga dapat dikaitkan dengan sejumlah masalah medis, atau dapat menjadi efek samping dari berbagai obat, paparan penyalahgunaan obat, atau zat beracun lainnya.
● Oleh karena itu, tes laboratorium rutin sering dilakukan selama penilaian awal untuk menyingkirkan penyebab lain dari gejala.
● Tanpa pengobatan, gejala kecemasan, depresi, sebagian besar penyakit mental lainnya cenderung bertahan lebih lama, mungkin tidak membaik, atau mungkin memburuk.
● Mengingat hubungan sindrom bebek dengan masalah emosional, kemungkinan besar fenomena itu juga benar.
● Dengan pengobatan, kemungkinan pemulihan kemungkinan besar meningkat secara signifikan.
● Misalnya, individu dengan salah satu dari masalah tersebut juga cenderung memiliki prestasi akademik atau pekerjaan yang buruk, terlibat dalam penyalahgunaan zat, dan mengalami masalah keluarga dan hubungan lainnya.

Faktor Penyebab duck syndrome
duck syndrome kebanyakan dialami oleh mereka yang masih berusia muda, misalnya siswa, mahasiswa, atau pekerja. Meski merasakan banyak tekanan dan stres, sebagian penderita duck syndrome masih bisa produktif dan beraktivitas dengan baik. Hal ini mungkin terkait dengan perilaku stoicism atau ketabahan yang kuat. Namun, orang yang mengalami duck syndrome juga berisiko untuk mengalami masalah kejiwaan tertentu, seperti gangguan cemas dan depresi.
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami duck syndrome, di antaranya:
● Tuntutan akademik
● Ekspektasi yang terlalu tinggi dari keluarga dan teman
● Pengaruh media sosial, misalnya terbuai ide bahwa kehidupan orang lain lebih sempurna dan bahagia ketika melihat unggahan dari orang tersebut
● Perfeksionisme
● Pernah mengalami peristiwa traumatik, seperti pelecehan verbal, fisik, dan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, atau kematian orang yang dicintai
● Self-esteem yang rendah
Orang yang menderita duck syndrome juga cenderung suka membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa bahwa hidup orang lain lebih baik dan sempurna darinya. Mereka juga memiliki tendensi untuk menganggap bahwa mereka sedang diamati atau diuji oleh orang lain sehingga harus menunjukkan kemampuannya semaksimal mungkin.

Cara Mengatasi Duck Syndrome
Duck Syndrom belum dikatakan resmi dalam diagnosis psikologi namun, hal ini tetap menjadi masalah yang harus segera diselesaikan. Karena, apabila dibiarkan syndrom ini dapat memicu munculnya stress, gangguan kecemasan dan depresi. berikut beberapa cara untuk mengatasi jika mulai merasakan adanya tanda-tanda terjadinya duck syndrom.
● Mengenali kapasitas diri, hal ini penting untuk dilakukan agar kita dapat menakarnya dan bekerja sesuai kemampuan yang dimiliki
● Belajar untuk lebih mencintai diri sendiri, dengan ini kita bisa mengenali diri kita dan dapat berdamai dengan kekurangan yang kita miliki. selain itu, dengan mengenali diri sendiri kita dapat memaksimalkan kelebihan yang kita miliki dan tidak hanya berfokus pada kekurangan yang ada
● Mulai mengubah pola pikir menjadi lebih positif, hal ini dapat dilakukan dengan tidak membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Karena, pada dasarnya setiap orang memang memiliki kekurangan dan kelebihan. Mulai menanamkan di dalam diri sendiri bahwa hidup memang tidak selalu sempurna dan tetap berusaha bangkit jika mengalami kegagalan kemudian menjadikannya sebagai kesempatan untuk membentuk kemampuan diri yang lebih baik lagi.
● Melakukan pelatihan untuk manajemen stress sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik.
● Jika sudah merasa mengalami duck syndrom dan merasa mengalami gejala psikologis dan mulai terasa mengganggu kehidupan sehari-hari seperti cemas setiap waktu, kesulitan tidur, susah untuk berpikir jernih dan memiliki keinginan untuk melukai diri sendiri maka lebih baik untuk melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Karena, nanti akan dilakukan diagnosis terlebih dahulu sehingga dapat memberikan suatu terapi yang disesuaikan dengan kondisi yang menyertai seperti kemungkinan adanya gangguan psikologis lainnya.

Treatment
Sejumlah praktisi kesehatan mental cenderung mengevaluasi seseorang yang diduga menderita sindrom bebek. Para profesional tersebut termasuk konselor kesehatan mental berlisensi, dokter anak, penyedia perawatan primer lainnya, spesialis yang merawat pasien untuk masalah medis, dokter gawat darurat, psikiater, psikolog, perawat psikiatri, praktisi perawat, asisten dokter, dan pekerja sosial, kemungkinan akan melakukan atau merujuk untuk evaluasi medis menyeluruh sebagai bagian dari penetapan diagnosis yang benar.

DAFTAR RUJUKAN
Ulusoy, Ş. G., & Atar, Ö. G. Reflection of Social Media Addiction on Family Communication Processes. Adam Akademi Sosyal Bilimler Dergisi, 10(2), 425-445.
Adrian, K. 2021. duck syndrome, Gangguan Psikologis yang Banyak Dialami Orang Dewasa Muda. https://www.alodokter.com/duck-syndrome-gangguan-psikologis-yang-banyak-dialami-orang-dewasa-muda (di akses pada 30 Mei 2021).
Katyusha, W. 2020. duck syndrome, Gangguan yang Sering Mandera Anda yang Ambisius. https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/duck-syndrome-yang-sering-mendera-remaja/ (di akses pada 1 Juni 2021)
Yudha. 2020. duck syndrome, Gangguan yang Dianggap Bebek Berenang. https://www.idntimes.com/health/medical/young-on-top-1/duck-syndrome-c1c2/4 (di akses pada 3 Juni 2021)
Dryden-Edwards, R. 2021. duck syndrome, Mental Health Center.
https://www.medicinenet.com/duck_syndrome/article.htm (diakses pada 8 Juni 2021)

Follow us on social media :

Tinggalkan Balasan