[PSYCHOFACT #5] Mengenal Academic Burnout Mahasiswa Selama Masa Pandemi Covid-19

Definisi
Burnout merupakan istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh Herbert Fraudenberger yang merupakan seorang psikolog klinis di New York dan istilah itu dipergunakan dalam jurnal psikologi yang membahas sindrom Burnout pada tahun 1973. Burnout merupakan suatu sindrom yang terdiri atas tiga aspek yaitu kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penghargaan diri yang rendah Maslach, Schaufeli, & Leiter (2001, dalam Saputra, 2020). Burnout adalah suatu keadaan dimana individu mengalami kelelahan fisik, mental, dan emosional yang terjadi, karena stress yang dialami dalam jangka waktu yang lama dan berada dalam situasi yang menuntut keterlibatan emosional yang cukup tinggi. Sehingga menimbulkan efek seperti menurunnya motivasi belajar, munculnya sikap negatif, frustasi, merasa gagal dan tidak diterima lingkungan, dan memiliki self-esteem yang rendah.
Burnout pada bidang akademik biasa disebut sebagai academic burnout yang mengacu pada beban, stress atau faktor psikologis yang disebabkan oleh kegiatan pembelajaran mahasiswa sehingga menimbulkan kelelahan emosional kecenderungan depersonalisasi, dan perasaan prestasi yang rendah Yang (2004, dalam Saputra, 2020). Sedangkan menurut Schaufeli (2002, dalam Maharani, 2019) burnout adalah perasaan lelah karena tuntutan studi (exhaustion), memiliki sikap sinis (cynism) dan perasaan tidak kompeten (reduced efficacy). Kejenuhan akademik atau academic burnout yakni perasaan lelah terkait tugas akademik, sikap yang buruk terhadap materi yang diberikan dan menyebabkan tidak adanya partisipasi dalam kegiatan akademik hingga muncul perasaan tidak mampu dalam mempelajari materi pelajaran.
Berdasarkan berbagai penjelasan yang telah diuraikan diatas, burnout academic merupakan suatu kondisi kelelahan emosional pada individu yang merasa lelah, jenuh, sinis, frustasi, dan self-esteem yang rendah sehingga berakibat pada kegiatan akademis mahasiswa yang menyebabkan turunnya motivasi belajar, kecenderungan depersonalisasi, perasaan prestasi yang rendah, dan juga perasaan tidak kompeten dalam bidang akademik.

Ciri-ciri
Menurut Fraudenberger & Richelson (2015, dalam Maharani 2019) terdapat beberapa gejala academic burnout yang dapat terlihat, seperti:
1. Kelelahan dan keletihan, yang merupakan gejala utama burnout academic membuat mahasiswa yang mengalami menjadi sulit menerima keadaan karena merasa lelah akan aktivitas yang dijalani
2. Lari dari kenyataan, seperti menyangkal penderitaan yang dialami dan menyebabkan individu menjadi kurang bertanggung jawab
3. Kebosanan dan sinisme. Individu merasa tidak tertarik akan kegiatan yang dilakukan atau sedang dikerjakan dan muncul perasaan bosan dan pesimis akan aktivitas tersebut
4. Emosional, membuat individu mengalami kelelahan dan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas menjadi berkurang sehingga menyebabkan gelombang emosional pada diri individu menjadi lebih mudah marah, mudah tersinggung dan menjadi tidak sabaran.
5. Disorientasi. Individu merasa terpisah dari lingkungan karena merasa bahwa lingkungannya tidak sesuai dengan harapan dan menjadi kehilangan daya untuk mengenal lingkungan terutama yang berhubungan dengan pekerjaan atau pada orang yang berada disekitarnya.
6. Psikosomatis. Individu sering mengalami sakit kepala atau pusing, mual-mual, diare, otot punggung yang tegang, flu, dan gangguan pencernaan atau kehilangan nafsu makan.
7. Depresi. Individu yang mengalami burnout merasa mendapat tekanan di luar beban fisik dan mental karena banyaknya tuntutan dari lingkungan
8. Penyangkalan. Seringkali individu yang mengalami burnout melakukan penyangkalan atau denial terhadap keadaan diri sendiri, baik kegagalan maupun kecemasan dan perasaan takut yang dirasakan.
Banyaknya aktivitas dan kegiatan akademik serta tuntutan dari lingkungan menyebabkan mahasiswa mengalami gejala burnout seperti merasa lelah dan letih, kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan atau aktivitas akademik, merasa bosan, kurang termotivasi, kurang perhatian, dan tidak ada minat dalam belajar serta tidak mendatangkan hasil (Maharani, 2019).

Dampak
Karena burnout academic adalah suatu hal yang cukup merugikan, maka perlu diketahui beberapa ruang lingkup dampak dari burnout academic ini, yaitu:
1. Kelelahan (Exhaustion)
Menurut Maslach & Laiter (2002) Exhaustion dapat menyebabkan seseorang merasakan hal-hal lain secara berlebihan, baik secara emosional dan fisik. Kelelahan akan menyebabkan mahasiswa merasa kekurangan energi untuk menghadapi tugas-tugas berikutnya. Dalam kesempatan ini, biasanya ketika seseorang mengalami kelelahan mereka akan mencoba mengurangi stres emosional terhadap orang lain dengan cara memisahkan diri.
2. Sinisme (Cynicism)
Maslach & Laiter (2002) menyatakan bahwa perasaan sinis akan membuat individu mengambil sikap lebih dingin dan memberi jarak pada setiap tugas maupun orang-orang yang berada disekitarnya. Perasaan tersebut akan meminimalisir keterlibatan mereka di tempat mereka menggapai cita-cita mereka. Disatu sisi, sinisme merupakan upaya untuk melindungi diri dari kelelahan dan kekecewaan. Merasa lebih aman untuk menjadi acuh, terutama ketika masa depan tidak pasti atau menganggap beberapa hal tidak akan berhasil. Namun, pandangan negatif dapat menghancurkan kesejahteraan dan kapasitas seseorang untuk bekerja secara efektif. Biasanya, orang sinis akan memperlakukan orang lain dengan lebih kasar dan lebih kritis.
3. Ketidakefektifan (Inefectiveness)
Ketidakefektifan menurut Maslach & Laiter (2002) didefinisikan sebagai suatu perasaan dimana ia merasa semakin tidak mampu. Hal-hal baru tampaknya bagi dia terlalu besar. Dunia dirasa bekerja sama melawan setiap upaya untuk membawanya pada suatu kemajuan, menyepelekan apa yang ingin ia capai. Kehilangan kepercayaan dalam menunjukkan kemampuan untuk membuat suatu gebrakan berbeda. Karena kehilangan kepercayaan pada diri sendiri, hal ini tentunya juga akan berdampak pada orang lain yang lambat laun akan kehilangan kepercayaan padanya.

Cara Mengatasi
Terdapat beberapa cara yang dapat kamu lakukan ketika kamu merasakan Academic Burnout, yuk simak tips dibawah ini :
1. Ingat tujuan awalmu saat kuliah
Tetaplah ingat tujuan awalmu saat memulai kuliah, ingatlah yang susah bukan hanya kamu, melainkan kedua orang tuamu juga. Mereka dengan susah payah mencari uang agar kamu bisa kuliah. Tanamkan itu saat kamu merasa burnout ataupun merasa ingin menyerah. Selain itu ingatlah bahwa banyak orang yang tak seberuntung kamu, mereka banyak yang menginginkan posisimu sekarang namun mereka tak bisa. Ingat juga bagaimana perjuanganmu dulu untuk bisa berada di titik sekarang. Dengan kamu melakukan ini niscaya semangatmu perlahan – lahan akan pulih Kembali
2. Beri jeda istirahat bagi tubuhmu
Sebanyak apapun pekerjaan yang kamu lakukan, ingatlah bahwa tubuh juga perlu istirahat. Jadi ketika kamu sudah merasa kelelahan, tak ada salahnya untuk istirahat dan tidak memaksakan tubuhmu bekerja. Ini merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan, sebab jika kamu memaksakan apa yang kamu kerjakan tapi tubuh sudah tidak kuat, maka itu hanya akan sia – sia. Kinerjamu menjadi berkurang dan kamu akan merasa sangat terbebani dengan apa yang kamu kerjakan
3. Lakukan hal yang kamu sukai
Melakukan hal yang disukai tentu menjadi moodbooster tersendiri yang bisa membangkitkan semangatmu. Kamu bisa menyelipkan kegiatan kesukaan di sela – sela kesibukan pekerjaanmu. Kegiatan apapun itu seperti melukis, jika kamu memiliki hobi melukis. Bisa juga dengan mendengarkan lagu, menonton film, memasak, dan lain sebagainya. Intinya berikanlah waktu “me time” untuk dirimu sendiri.
4. Kelilingi dirimu dengan orang – orang yang positif
Kamu bisa menghubungi teman – teman terdekatmu dan bercerita mengenai hal apapun. Ini bisa menjadi salah satu cara agar kamu merasa rileks. Dengan melepaskan semua beban yang dipendam rasanya pasti akan lebih lega. Curhat pun tak harus kepada teman, kamu juga bisa curhat kepada orang tuamu, saudaramu, dan juga yang lainnya. Intinya carilah orang yang menurutmu bisa membuatmu rileks dan nyaman untuk bercerita.
5. Mencari motivasi
Burnout ditandai dengan perasaan hilangnya motivasi dalam diri seseorang. Maka dari itu penting bagi kita untuk mencari motivasi kembali agar dapat melakukan pekerjaan seperti sedia kala. Mencari motivasi ini bisa dengan berbagai cara, seperti menonton video motivasi yang lengkap tersedia di youtube, membaca artikel mengenai motivasi, dan membaca buku motivasi.

Kesimpulan
Academic burnout merupakan sebuah suatu kondisi kelelahan emosional pada individu yang merasa lelah, jenuh, sinis, frustasi, dan self-esteem yang rendah sehingga berakibat pada kegiatan akademis mahasiswa. Hal tersebut dapat diatasi dengan berbagai hal salah satunya ialah dengan mengingat tujuan awal pada saat memutuskan kuliah, dengan seperti itu maka academic burnout dapat diatasi.

REFERENSI
Christiana, E., 2020. Burnout Akademik Selama Pandemi Covid-19. Prosiding Seminar, pp. 8-16
Maharani, D. M. (2019). HUBUNGAN ANTARA SELF-ESTEEM DENGAN ACADEMIC BURNOUT PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2018/2019 (Doctoral dissertation, UNNES).
Saputra, Y. A. A. (2020). HUBUNGAN ANTARA ACADEMIC BURNOUT DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA YANG BEKERJA (Doctoral dissertation, Universitas Mercu Buana Yogyakarta).

Puspasari, Ayu. (2018). Atasi Burnout Syndrome Akibat Kuliah Online Dengan 5 Tips Berikut!. Diakses online : (https://campuspedia.id/news/atasi-burnout-syndrome-akibat-kuliah-online-dengan-5-tips-berikut/) Pada Juni 2021

001 – DC4091 – NikesneakersShops , nike air chromeposite for sale california cheap – Jordan Jordan 1 Mid MMD (Black) | nike dunk force wedge , Air Jordan 1 Trainers — Spurn Game

Follow us on social media :

Tinggalkan Balasan