[#PSYCHOFACT Vol.3] Imposter Syndrome: Aku Kurang Berusaha? Aku Kurang Maksimal? Aku Takut Gagal

Pengertian
Imposter syndrome (sindrom penipu) atau fenomena intellectual self-doubt atau fenomena fraud adalah perilaku seseorang yang seringkali merasa dirinya penipu atas pencapaian atau kesuksesan diri sendiri akan kemampuannya sehingga menjadi ragu atau takut kalau kemampuannya yang sebenarnya akan terungkap suatu hari nanti. sikap meragukan kemampuan yang dialami ini akan berdampak pada perasaan bersalah. Namun imposter syndrome bukan merupakan suatu gangguan psikologis melainkan kondisi psikologis. contoh perilakunya seperti merasa buruk ketika mengerjakan sesuatu, merasa lemah akan kerjanya ataupun merasa cemas pada kegiatan yang belum dilakukan terkadang juga merasa pekerjaannya selesai karena sebuah keberuntungan.
Individu seringkali mengaitkan beberapa kombinasi sikap negatif diarahkan ke masa depan ataupun masa lalu seperti sebenarnya dia merasa tidak bisa namun karena dia memiliki keberuntungan maka dia bisa serta memiliki keraguan ketika melakukan suatu hal.
sindrom ini seringkali terjadi pada individu yang mengerjakan suatu pekerjaan dengan lama atau berlebihan pada proses. sehingga apabila individu yang tidak dapat menekan rasa keraguan ini akan muncul kecemasan, depresi, emosi tidak stabil dan gangguan psikologis lainnya. bukan hanya itu imposter juga merasakan hal ini karena stigma di masyarakat yang berpikir bahwa kegagalan adalah hal yang membuat diri menjadi tidak berharga. individu yang merasa imposter biasanya dipandang individu yang berprestasi atau pintar sehingga label ini membuatnya menjadi selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang takut akan kegagalan.

Tipe :
1. Perfeksionis dimana merasa tidak puas akan pekerjaan dan selalu menuntut bahwa dia bisa mengerjakan dengan lebih baik.
2. Superhero dimana individu merasa memiliki kemampuan lebih untuk menyelesaikan pekerjaan itu
3. Expert dimana individu merasa tidak puas akan pemahamannya walaupun sudah maksimal walaupun juga sudah memiliki skill yang mumpuni tapi mereka sering tidak mempercayai kemampuannya
4. Natural genius dimana individu menetapkan target yang terlalu tinggi dan merasa frustasi apabila gagal pada percobaan pertama
5. Soloist dimana individu suka mengerjakan sendiri dan menolak bantuan karena menilai bantuan merupakan sebuah kelemahan

Karakteristik :
1. Individu merasa ragu akan kemampuan diri
2. Sering mengaitkan kemampuan karena faktor eksternal seperti keberuntungan mendapatkan pekerjaan yang lingkungannya mendukung ataupun keberuntungan lainnya
3. Tidak mampu mengukur kemampuannya secara obyektif
4. Seringkali merasa takut gagal suatu hari
5. Merasa gagal atau frustasi ketika target tidak sesuai dengan ekspektasi
6. Menetapkan target yang tinggi dan merasa frustasi apabila gagal

Faktor-Faktor:
1. Pola asuh orang tua yang sangat mengutamakan prestasi dan pencapaian
2. Lingkungan yang kompetitif
3. Sifat perfeksionis
4. Peran baru, misalnya sebagai mahasiswa atau pekerja

Cara menghadapi imposter syndrome
1. mengakui perasaan yaitu dengan cara mencatatnya dan uraikan secara spesifik hal apa yang menimbulkan terjadinya kecemasan sekaligus alasannya sehingga hal ini akan membuat anda menyadari hal yang sebenarnya terjadi
2. melawan pikiran negatif dengan melakukan positive self talk seperti mengingat usaha yang sudah dilakukan secara maksimal
3. sharing to others yaitu dengan bercerita kepada teman yang dipercaya atau teman dekat
4. mengenal kelemahan dan kelebihan diri sehingga dapat mengembangkan kelebihan dan mengantisipasi kelemahan atau mengatasi kelemahan
5. mengakui dan memberi reward kepada diri sendiri akan kesuksesan atau mencapai target seperti membeli sesuatu yang menyenangkan ataupun pergi berlibur
6. tidak membandingkan kemampuan diri dengan orang lain secara berlebihan sehingga membuat perasaan bersalah pada diri sendiri
7. tolak keadaan apabila membuat anda merasa tidak nyaman dan menyebabkan gangguan kecemasan
8. pergi ke psikolog atau profesional apabila terjadi gejala-gejala yang membuat imposter merasa terganggu

Daftar Rujukan
https://www.ugm.ac.id/id/berita/20226-psikolog-ugm-paparkan-fakta-imposter-syndrome

https://www.verywellmind.com/imposter-syndrome-and-social-anxiety-disorder-4156469

Bravata, D. M., Watts, S. A., Keefer, A. L., Madhusudhan, D. K., Taylor, K. T., Clark, D. M., … & Hagg, H. K. (2020). Prevalence, predictors, and treatment of impostor syndrome: a systematic review. Journal of General Internal Medicine, 35(4), 1252-1275.

Hawley, K. (2019, June). I—What Is Impostor Syndrome?. In Aristotelian Society Supplementary Volume (Vol. 93, No. 1, pp. 203-226). Oxford University Press.

Ali, E. S., Kurniawati, Y., & Nurwanti, R. (2016). Peran Impostor Syndrome dalam Menjelaskan Kecemasan Akademis pada Mahasiswa Baru. MEDIAPSI, 1(1), 1-9.
Air Jordan 1 Low OG Neutral Grey (2021) (W) – nike free run womens 5.0 – 100 – CZ0775 | pink and black womens nike presto pants women – Compra Nike BLAZER MID ’77 – 100 – DC7331

Follow us on social media :

Tinggalkan Balasan