People-Pleaser

Salam Psikologi Sparta!

People-pleaser merupakan sebutan bagi seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang-orang di sekitarnya, dan memiliki kecenderungan untuk melakukan apapun agar tidak mengecewakan orang yang ada di sekitarnya. Dengan kata lain sebagaimana menurut Susan Newman seorang psikolog yang berbasis di New Jersey menyatakan bahwa people-pleaser akan meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri (tirto.id).

People-pleaser ini dapat disebabkan dari kebiasaan seseorang untuk ingin merasa penting dan berkontribusi bagi orang lain. People-pleaser akan merasa aman dan percaya diri jika mendapat persetujuan dari orang lain. Mereka pun juga perlu agar orang lain menyatakan atau menunjukkan bahwa mereka berharga untuk bisa percaya diri. Sebaliknya, jika mereka tidak mendapatkan penerimaan atau pengakuan dari orang lain, seorang people-pleaser akan merasa bingung, minder, hingga merasa diri tidak pantas.

Ciri lain seorang people-pleaser yakni sulit berkata ‘tidak’ jika dimintai tolong, bahkan jika hal tersebut bisa saja merugikan dirinya sendiri. Dengan begitu, ia akan menyangkal diri sendiri, dan bersikap manipulative terhadap diri sendiri dan orang lain.
Menurut seorang psikolog bernama Leon F Seltzer, akar dari sikap people-pleaser adalah lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan biasanya orangtua menuntut agar anak-anak menjadi orang yang baik, dan selalu dapat menjadi kebanggaan. Orangtua cenderung menginginkan anaknya terlihat kuat dan dapat selalu menjadi contoh, tanpa melihat adanya kebutuhan anak untuk dikasihi dan menjadi diri sendiri.

Cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi people pleaser :
1. Menyadari apa yang dilakukan
Berusaha menyenangkan orang lain merupakan tindakan menebak apa yang diinginkan dan diharapkan orang lain. Hal yang perlu dilakukan adalah merenungkan apa yang akan dirasakan orang lain ketika kita menolong mereka dengan terpaksa hanya karena ingin dianggap sebagai penolong.
2. Minta bantuan orang lain
Mulailah untuk meminta bantuan orang lain sebagaimana orang lain meminta bantuan kepada kita.Jangan merasa tidak enak dan takut merepotkan asal meminta tolong dengan cara yang baik, tidak berlebihan serta dirasa orang tersebut cukup mempuni untuk menolong kita.
3. Tentukan kemampuan diri
Asah mental dan kepercayaan diri kamu untuk tampil apa adanya. Buatlah daftar pencapaian yang akan diraih serta cara melakukannya.
4. Mulai batasi diri
ketika kita membantu orang lain terus menerus secara tidak langsung akan membuat orang tersebut malas. Menolak permintaan orang lain pun bukan berarti membuat kamu menjadi egois dan arogan. Jangan takut untuk berdiskusi atau meminta masukan dari orang lain.

Berhenti menjadi people pleaser memang tidak bisa dilakukan secara instan. Perlu keyakinan diri yang kuat serta waktu yang lama. Perlu ditegaskan pada diri sendiri bahwa sampai kapanpun melakukan tindakan untuk menyenangkan orang lain tidak akan menemui titik kepuasan.
Bagaimanapun hal yang utama adalah kebahagian dan kesehatan mental diri sendiri.

Sumber:
– Tirto.id. (2019, 27 November). Mengenal People-Pleaser dan Cara Mengatasinya. Diakses pada 08 Juli 2020, dari https://tirto.id/mengenal-people-pleaser-dan-cara-mengatasinya-empb.
– Idntimes (2019, 14 November) Berhentilah Menjadi People Pleaser, Demi Kesehatan Jiwa di Masa Depan. Diakses pada 09 Juli 2020, dari https://idntimes.com/life/inspiration/amp/rafni/berhentilah-menjadi-people-pleaser-c1c2

By : Divisi Sosial
Women’s shoes – adidas hermosa mesh backpack purple and blue color , GiftofvisionShops – Fitness – adidas nite jogger kids – Sports shoes | Air Jordan 10 — Ietp

Follow us on social media :

Tinggalkan Balasan