Toxic Positivity : The Dark Sides of Positive Vibes

Definisi toxic positivity
Toxic positivity yaitu generalisasi yang berlebihan dan tidak efektif dari keadaan bahagia, atau optimis dalam segala situasi. Semua hal yang berlebihan akan menjadi racun, termasuk dalam berpikir positif. Dengan menolak perasaan tertentu, kita akan jatuh dalam keadaan tertekan.

Tanda dari Toxic Positivity
1. Menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya.
2. Tidak menghargai semua bentuk emosimu, dengan mengatakan seperti “sudah jalani saja”.
3. Merasa bersalah dengan perasaan yang kau alami, seperti merasa sedih. Padahal rasa sedih juga termasuk dari bentuk emosi yang bukan harus dihindari melainkan kita rangkul.
4. Menyangkal perasaan sedih dengan memberi nasihat yang mengabaikan emosi negatif seseorang.
5. Mencoba menyangkal emosi negatif seperti perasaan kecewa, marah dan sedih yang sebetulnya merupakan hal yang normal, seperti “masih untung cuma segitu” “positive thinking saja” “coba ambil sisi positifnya”
6. Menghakimi seseorang yang mengekspresikan emosi negatifnya, hanya bisa menerima emosi positif saja.
7. Menekan emosi negatif dengan selalu bersikap “yaudah, udah kejadian juga. mau diapain lagi?”

Ketujuh tanda toxic positivity diatas tanpa sadar sering kita alami atau bahkan kita sendiri yang melakukannya. Ketika seseorang mengekspresikan perasaan sedihnya, kerap kali kita menimpah perasaan tersebut dengan selalu berusaha berpikir positif dan menerima nasihat – nasihat positif yang mengabaikan emosi negatif atau perasaan kita yang sebenarnya, penyangkalan perasaan tersebut terkesan seolah bahwa emosi negatif tidak diperlukan bagi manusia, yang mana sebenarnya adalah hal yang normal untuk merasa sedih dan merasa tidak baik – baik saja. Alih – alih merasa senang, kalimat – kalimat positif yang dilontarkan tersebut dapat menjadi bumerang bagi seseorang tersebut karena sebenarnya yang paling dibutuhkan adalah rasa empati dan perasaan ingin didengar, bukan sesuatu yang selalu memaksa berpikir positif dan tidak realistis sehingga menjadi kalimat racun yang mengabaikan perasaan sebenarnya dan terasa palsu.
It’s okay not to be okay, kutipan yang sudah dikenal cukup lama tersebut dan baru – baru ini trending di twitter seolah mengingatkan kita untuk senantiasa merangkul dan berdamai dengan seluruh emosi yang ada dalam diri kita, baik sedih, kecewa, marah ataupun bahagia semua adalah bentuk emosi normal yang dialami manusia.

Mengapa toxic positivity buruk untuk kesehatan?
1. Rasa Malu
Toxic positivity dapat memunculkan rasa malu pada seseorang karena paksaan dorongan pandangan positif tentang kejadian yang dialami.Rasa malu merupakan perasaan tidak nyaman yang dapat melumpuhkan semangat seseorang. Sumber energi dari rasa malu adalah keheningan, kerahasiaan dan penilaian yang mana rasa malu berperan sebagai drive ketika ada persembunyian, rahasia, dan penilaian.
Terkadang seseorang tidak menyadari dirinya merasa malu, maka hal yang perlu dilakukan adalah menanyakan pada diri sendiri.

2. Emosi yang Ditekan
Beberapa studi psikologis menunjukkan bahwa menyembunyikan atau menyangkal perasaan mengarah pada lebih banyak tekanan pada tubuh dan meningkatnya kesulitan untuk menghindari pikiran dan perasaan yang menyusahkan tersebut.
Dalam satu studi misalnya, peserta penelitian dibagi menjadi dua kelompok dan disuguhkan film berupa prosedur medis yang mengganggu lalu respons stres mereka diukur (seperti detak jantung, pelebaran pupil, produksi keringat). Kelompok pertama diminta untuk menonton video sambil membiarkan emosinya ditunjukkan, sedangkan kelompok kedua diminta untuk menonton film dan bertindak seolah-olah tidak ada yang mengganggu mereka. Dan coba tebak? Para peserta yang menekan emosi mereka (bertindak seolah-olah tidak ada yang mengganggu mereka) memiliki gairah fisiologis yang lebih signifikan (Gross dan Levenson, 1997).
Para penekan emosional mungkin terlihat keren dan tenang tetapi pada bagian dalam dari diri mereka, rasa stress itu meletus! Jenis-jenis studi ini menunjukkan kepada kita bahwa mengekspresikan berbagai emosi (bahkan yang “tidak terlalu positif”), memiliki kata-kata untuk menggambarkan perasaan kita, dan ekspresi wajah yang ingin kita tiru (yup yang dapat berarti menangis) membantu kita mengatur respon stress. Ketika kita menyangkal kebenaran, perasaan itu terkubur jauh di dalam tubuh kita. Emosi yang tertekan kemudian dapat bermanifestasi menjadi kecemasan, depresi, atau bahkan penyakit fisik.
Penting untuk mengakui kenyataan emosi kita dengan mengucapkannya dan mengeluarkannya dari tubuh kita. Inilah yang membuat kita tetap waras, sehat, dan meredakan ketegangan yang disebabkan oleh menekan kebenaran. Begitu kita menghormati perasaan kita, kita merangkul SEMUA dari diri kita sendiri, yang baik, yang buruk dan yang jelek. Dan menerima diri kita apa adanya adalah jalan menuju kehidupan emosional yang kuat.

3. Isolasi dan Permasalahan Hubungan Lainnya
Dengan menyangkal kebenaran, hidup seolah menjadi terpisah dari diri sendiri dan dunia luar. Apabila kehilangan koneksi dengan diri, orang lain juga akan sulit untuk terhubung dengan Anda.
Hubungan dengan diri sendiri seringkali tercermin dalam hubungan yang Anda miliki dengan orang lain. Jika Anda tidak bisa jujur tentang perasaan Anda sendiri, bagaimana Anda bisa memberikan ruang bagi orang lain untuk mengungkapkan perasaan mereka di hadapan Anda? Dengan menciptakan dunia emosional palsu, Anda hanya akan menarik lebih banyak kepalsuan yang menghasilkan keintiman palsu dan persahabatan yang dangkal.

Contoh dari Toxic Positivity

Kesimpulan
Menjadi manusia yang sehat melibatkan kesadaran akan diri kita sendiri dan bagaimana kita muncul di dunia. Jika kamu mengakui diri kamu sebagai pemancar Toxic Positivity, ini saatnya untuk menghentikannya. Karena kamu menyakiti dirimu sendiri dan orang-orang yang paling kamu sayangi dengan bersikeras pada pola pikir monokromatik ini. Sebagai ganti kepositifan toksik, bertujuan untuk keseimbangan dan penerimaan keduanya emosi baik dan buruk, daripada berpikir semua atau tidak sama sekali.
Jika kamu dipengaruhi oleh Toxic Positivity, kami menganjurkan anda untuk menetapkan batasan yang sehat dengan siapa saja yang bisa menilai pengalamanam autentik anda dan mengatakan kejujuran pada anda. Kita mendapatakan satu kesempatan di kehidupan yang indah, menyakitkan, tidak sempurna ini.. rangkul semuanya dan kita akan mendaptkan imbalan dari kelimpahan yang berlimpah.

Sumber: https://thepsychologyfroup.com/toxic-positivity/ Penulis: Samara Quintero, LMFT, CHT dan Jamie Long, PsyD.

By : Departemen Kesejahteraan MahasiswaUpcoming 2021 Nike Dunk Release Dates – nike tiempo ii jersey green black friday specials – CopperbridgemediaShops | womens nike kawa slides sandals boots size

Follow us on social media :

Tinggalkan Balasan